i (am) Blogger and U?

from X-periment to X-perience

Template Toko Online: Shopper Variant

SHOPPER-Variant adalah HTML template (menggunakan Bootstrap 3.3.6) yang ditujukan untuk toko online. Template ini terdiri dari 6 halaman siap pakai yaitu home, product lists, shopping c [...]

Profile / Portofolio Pro 1

Aplikasi Profil / Portofolio Pro 1, software berbasis web untuk pengelolaan portofolio atau untuk menampilkan profil baik perusahaan maupun perseorangan. Selain itu software ini dapat p [...]

One-Page Portofolio / Gallery 2

One-Page Portofolio / Gallery 2 memiliki fitur-fitur yang sama persis dengan One-Page Portofolio / Gallery 1 tapi dengan theme/template yang berbeda (theme yang dipakai pada versi ini a [...]

Anime/Movie Community Sharing (FullCustom)

Produk ini adalah aplikasi web full-custom yang diperuntukkan bagi Anda yang ingin membuat situs/web yang dapat menampilkan anime/movie dan dapat ditonton oleh para pengunjung. Video an [...]

Aplikasi Web: Pre-Order Online Shop

Pre-Order Online Shop adalah paket full-features aplikasi toko online yang dapat digunakan untuk menjalankan bisnis Anda secara online. Fasilitas unggulan yang terdapat pada aplikasi in [...]

Web Profil / Portofolio Basic 2

Web Profil/Portofolio Basic 2 memiliki fitur-fitur yang sama persis dengan Web Profil/Portofolio Basic 1 tapi dengan theme/template yang berbeda.

Masa Depan Open Source di Indonesia

Category: Komputer dan TeknologiDate:
Sunday, 04 Jan 2009

Gaung gerakan IGOS (Indonesia goes open source) nampaknya semakin tenggelam dengan maraknya kampanye Pemilu 2009 dan sederetan kasus-kasus “aneh” yang muncul di layar kaca kita. Serupa dengan gerakan-gerakan lain yang dicanangkan oleh pemerintah seperti gerakan hemat BBM, gerakan hemat listrik, gerakan anti-korupsi dsb. Nampaknya IGOS juga bisa jadi hanya sekedar wacana belaka. Meriah dan penuh dengan gegap gempita di awal pencanangannya untuk kemudian segera “dicampakkan” dan “dilupakan” begitu saja.

Saya tak tahu pasti mengapa hal ini bisa terjadi. Hal yang pasti adalah bahwa untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat itu bukan pekerjaan mudah seperti membalik telapak tangan. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik itu yang mendukung maupun faktor yang menghambat. Keteladanan mungkin masih menjadi masalah klasik yang sejak dulu melanda negeri ini. Lihat saja “nasib” Pancasila yang dulunya begitu diagung-agungkan di sana sini. Bagaimana penerapannya pada masa sekarang? Rupanya “sejuta” penataran tidaklah cukup untuk menjadikan Pancasila sebagai bagian dari masyarakat kalau tak ada figur yang bisa dijadikan contoh teladan bagaimana kehidupan yang Pancasilais dan itu kembali kepada keteladanan dari para pemimpin.

Begitu pula dengan nasib IGOS yang nampaknya belum bisa kita lihat sisi keteladanannya dari para pemimpin kita. Kalau ada mungkin hanya dicontohkan oleh DepKomInfo atau sebangsanya. Bukankah pemerintah itu bukan hanya DepKomInfo dkk saja? Coba aja dicek, berapa persen aparat pemerintah yang udah dengan sadar melaksanakan IGOS. Jangankan melaksanakan IGOS, lebih parah lagi mungkin banyak yang tidak tahu apa itu IGOS.

Sebenarnya pemerintah bisa saja sedikit “memaksakan” IGOS untuk diterapkan pada masyarakat. Dengan menerbitkan aturan yang mengharuskan penggunaan software open source di lingkungan pemerintahan. Hal ini bisa saja dilaksanakan karena pemerintah memang memiliki otoritas untuk itu. Kalau tidak dipaksa, mungkin banyak yang tak mau melaksanakannya. Sayang sekali, cara seperti ini kelihatannya juga bisa jadi tak akan berhasil. Hal yang sama juga pernah diterapkan pada gerakan-gerakan lain yang dicanangkan pemerintah tetapi juga tidak memberikan hasil yang signifikan.

Hal lain yang agaknya menjadi penghambat adalah mayoritas warga negara Indonesia enggan (:baca malas) mempelajari sesuatu yang baru (apalagi sesuatu yang susah). Saya sendiri sudah merasakan bagaimana “susahnya” menginstall suatu software open source karena memang caranya agak berbeda dengan yang sudah biasa dikenal sejak kecil (tinggal next-next-next maksudnya). Akan tetapi, ternyata itu hanyalah masalah kebiasaan saja. Dengan terus mencoba akhirnya juga akan terbiasa juga dan menjadi terasa mudah. Kalau semenjak kecil sudah dikenalkan dengan “produk-produk” open source maka mungkin kita akan menganggapnya mudah dan menyenangkan.

 


No comments...
>> Comments closed. <<