i Blogger and U?

from X-periment to X-perience

2009
04Jan

Masa Depan Open Source di Indonesia

published by Moch. Iqbal Chahyadi
kategori posting: Komputer, telah ditampilkan sebanyak 460 kali

Share posting ini di:
Share on Facebook Reddit Del.icio.us Digg Technorati Slashdot Google Bookmarks Mixx Blinklist Yahoo MyWeb

Gaung gerakan IGOS (Indonesia goes open source) nampaknya semakin tenggelam dengan maraknya kampanye Pemilu 2009 dan sederetan kasus-kasus “aneh” yang muncul di layar kaca kita. Serupa dengan gerakan-gerakan lain yang dicanangkan oleh pemerintah seperti gerakan hemat BBM, gerakan hemat listrik, gerakan anti-korupsi dsb. Nampaknya IGOS juga bisa jadi hanya sekedar wacana belaka. Meriah dan penuh dengan gegap gempita di awal pencanangannya untuk kemudian segera “dicampakkan” dan “dilupakan” begitu saja.

Saya tak tahu pasti mengapa hal ini bisa terjadi. Hal yang pasti adalah bahwa untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat itu bukan pekerjaan mudah seperti membalik telapak tangan. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik itu yang mendukung maupun faktor yang menghambat. Keteladanan mungkin masih menjadi masalah klasik yang sejak dulu melanda negeri ini. Lihat saja “nasib” Pancasila yang dulunya begitu diagung-agungkan di sana sini. Bagaimana penerapannya pada masa sekarang? Rupanya “sejuta” penataran tidaklah cukup untuk menjadikan Pancasila sebagai bagian dari masyarakat kalau tak ada figur yang bisa dijadikan contoh teladan bagaimana kehidupan yang Pancasilais dan itu kembali kepada keteladanan dari para pemimpin.

Begitu pula dengan nasib IGOS yang nampaknya belum bisa kita lihat sisi keteladanannya dari para pemimpin kita. Kalau ada mungkin hanya dicontohkan oleh DepKomInfo atau sebangsanya. Bukankah pemerintah itu bukan hanya DepKomInfo dkk saja? Coba aja dicek, berapa persen aparat pemerintah yang udah dengan sadar melaksanakan IGOS. Jangankan melaksanakan IGOS, lebih parah lagi mungkin banyak yang tidak tahu apa itu IGOS.

Sebenarnya pemerintah bisa saja sedikit “memaksakan” IGOS untuk diterapkan pada masyarakat. Dengan menerbitkan aturan yang mengharuskan penggunaan software open source di lingkungan pemerintahan. Hal ini bisa saja dilaksanakan karena pemerintah memang memiliki otoritas untuk itu. Kalau tidak dipaksa, mungkin banyak yang tak mau melaksanakannya. Sayang sekali, cara seperti ini kelihatannya juga bisa jadi tak akan berhasil. Hal yang sama juga pernah diterapkan pada gerakan-gerakan lain yang dicanangkan pemerintah tetapi juga tidak memberikan hasil yang signifikan.

Hal lain yang agaknya menjadi penghambat adalah mayoritas warga negara Indonesia enggan (:baca malas) mempelajari sesuatu yang baru (apalagi sesuatu yang susah). Saya sendiri sudah merasakan bagaimana “susahnya” menginstall suatu software open source karena memang caranya agak berbeda dengan yang sudah biasa dikenal sejak kecil (tinggal next-next-next maksudnya). Akan tetapi, ternyata itu hanyalah masalah kebiasaan saja. Dengan terus mencoba akhirnya juga akan terbiasa juga dan menjadi terasa mudah. Kalau semenjak kecil sudah dikenalkan dengan “produk-produk” open source maka mungkin kita akan menganggapnya mudah dan menyenangkan.

 


Artikel-artikel yang sejenis:






Your Reply...

Nama

E-mail

URL Blog (boleh kosong)



Captcha: 46 + 4 :