i Blogger and U?

from X-periment to X-perience

2011
13Feb

Rasa Syukur dan Bandwidth yang Terbatas

di-publish pada 13 Februari 2011, ditampilkan sebanyak 388x

Share posting ini di:
Share on Facebook Reddit Del.icio.us Digg Technorati Slashdot Google Bookmarks Mixx Blinklist Yahoo MyWeb

Mayoritas manusia kemungkinan akan "gagal bersyukur" ketika terus menerus menerima karunia dan "rezeki" yang terlalu banyak. Tak usah membayangkan yang jauh-jauh tapi coba saja tengok bagaimana orang-orang terbiasa menikmati koneksi internet dengan bandwidth katakanlah 500 kbps dan kemudian suatu waktu ternyata koneksi internetnya sedang ngadat karena satu dan lain hal dan turun ke 100 kbps. Kemungkinan mereka akan "marah-marah dan menggerutu" atau malah mengamuk?.

Sebaliknya, ada orang yang sehari-hari biasa "menikmati internet" mentok di 5 kbps nampaknya akan "lebih bisa bersyukur" ketika tiba-tiba mendapatkan koneksi dengan kecepatan 25 kbps. Padahal kalau dilihat dari angkanya tentu 25 kbps dibandingkan 100 kbps rasanya cukup signifikan, tapi mengapa perasaan tidak terima nampaknya menjangkiti mereka yang koneksinya turun. Ya, mungkin karena udah terlalu sering "memperoleh kenyamanan" sehingga lupa bahwa kenyamanan itu sendiri adalah karunia Allah SWT yang harus disyukuri.

Random Artikel: