i (am) Blogger and U?

from X-periment to X-perience

Aplikasi Web: Custom Form

Aplikasi Web Custom Form, software berbasis web dengan fitur utama adalah pembuatan DYNAMIC FORM (form web dinamis). Form ini terdiri dari berbagai jenis field, seperti field input text [...]

Aplikasi Web: Online Shop PRO 1

Toko Online Pro 1 adalah paket full-features aplikasi toko online yang dapat digunakan untuk menjalankan bisnis Anda secara online. Aplikasi ini memiliki fitur-fitur unggulan dan lengk [...]

One-Page Portofolio / Gallery 2

One-Page Portofolio / Gallery 2 memiliki fitur-fitur yang sama persis dengan One-Page Portofolio / Gallery 1 tapi dengan theme/template yang berbeda (theme yang dipakai pada versi ini a [...]

Badge/Watermark Image Generator

Badge/Watermark Image Generator adalah aplikasi web yang digunakan untuk membuat badge/watermark atau penanda pada foto/gambar yang biasanya digunakan misalnya pada penanda foto produk [...]

Web Profil / Portofolio Basic 1

Web Profil/Portofolio Basic 1, aplikasi/software untuk mengelola portofolio (atau bisa juga dijadikan sebagai photo/image gallery) atau untuk menampilkan profil perusahaan maupun perseo [...]

Template Toko Online: Shopper

SHOPPER adalah HTML template (menggunakan Bootstrap 3.3.6) yang ditujukan untuk toko online. Template ini terdiri dari 6 halaman siap pakai yaitu home, product lists, shopping cart, det [...]

UU HAKI dan Kesempatan Berbisnis

Category: SoftwareDate:
Sunday, 04 Jan 2009

HAKI alias hak atas kekayaan intelektual di negara-negara lain sudah bisa dijadikan “senjata” dari para produsen software untuk “menggilas” para pembajak produknya. Di negara kita hal seperti itu juga sudah mulai digalakkan. Lihat saja pada awal munculnya UU HAKI, banyak warnet dan perusahaan yang “digrebek” polisi karena disinyalir menggunakan “barang ilegal”. Saat ini mungkin masih banyak dilakukan sweeping software ilegal tapi mengapa di sekitar kita masih banyak juga para pemakai software yang berlisensi “bajakan”. Apa ada yang salah dengan UU HAKI? Yang salah itu undang-undangnya, developer/programmer software, aparat penegak hukumnya, atau masyarakatnya?

Cara mengatasi pembajakan di Indonesia nampaknya tak cukup dengan UU HAKI saja. Berarti harus ada cara lain yang ditempuh oleh para developer/programmer software supaya bisa “bertahan hidup”. Kalau mau terus bertahan dengan mengandalkan UU HAKI itu sah-sah saja. Namun sampai kapan para developer/programmer software akan bisa bertahan dengan model seperti itu. Apa mau dibuat algoritma yang hebat agar tak bisa di-crack orang? Saya berpendapat bahwa hal itu sangat susah dilakukan kalau tak mau dibilang mustahil. Tak ada software yang 100% aman dari gangguan para pengganggu (:baca cracker), apalagi kalau software yang dibuat itu bagus dan diperlukan banyak orang plus berbayar. Anda semua pasti udah tahu contoh nyatanya. Bagaimana pun “hebatnya” sesumbar dari sang pembuat software bahwa software buatannya tak bisa dibobol, maka waktulah yang akan menjawabnya karena pada kenyataannya beberapa hari kemudian sudah muncul versi cracking-nya.

Kalau kenyataannya memang begitu, maka yang perlu diubah adalah cara “berjualan” software. Ada satu kisah orang yang “berjualan” software dengan cara yang lain daripada yang lain. Dia tidak menganut “falsafah” open source dalam arti membuka kode programmnya tapi menggratiskan software yang dibuatnya bahkan mempromosikan (:baca mempersilahkan) software-nya untuk dibajak. Semakin banyak orang yang “membajak” software-nya maka dia semakin memperoleh keuntungan. Mengapa bisa begitu? Begini ceritanya, daripada susah-susah memproteksi software yang pada akhirnya juga akan dicrack juga, pertama dia menawarkan kepada perusahaan-perusahaan tertentu agar mau pasang iklan di tempatnya. Iklan ini nantinya akan ditampilkan di software buatannya. Jadi semakin banyak orang yang menggunakan software itu maka ia akan terus dibayar oleh perusahaan yang bersangkutan. Cara seperti ini memang tak bisa diterapkan pada semua jenis software tapi hal ini merupakan salah satu alternatif marketing yang bisa ditempuh oleh para developer/programmer software.

 


koboypeot | 10 Feb 2009
Komentar: setuju...!!! jadi qt tinggal ngakalin "remove adds" & g melanggar UU HAKI ;-)
PUJIE | 02 Apr 2011
Komentar: kurang lengkap dgn belum adanya pendahuluan
PUJIE | 02 Apr 2011
Komentar: sangat setuju
>> Comments closed. <<